Mile 22 Review FilmReview: Film Mile 22 Hadirkan Aksi Tanpa Substansi

“Mile 22” digadang-gadang menjadi film yang mengantarkan Iko Uwais untuk memantapkan langkahnya di Hollywood. Disutradarai oleh Peter Berg dan dibintangi oleh Mark Wahlberg, proyek ini terdengar menjanjikan pada awalnya. Diproduksi oleh Huayi Brothers dan STX Entertainment, “Mile 22” juga menggelar peluncuran cukup meriah di Indonesia dengan promosi di negara-negara lain yang bisa dibilang lumayan besar. Sayangnya promosi dan nama-nama prestisius ini tidak diimbangi dengan penyampaian cerita yang menawan. Film ini bercerita tentang agen CIA, James Silva (Mark Wahlberg) yang bertugas untuk mengungkap operasi mata-mata Rusia di Amerika Serikat. Ia dituntut untuk melacak keberadaan zat berbahaya sebelum itu digunakan untuk menjadi senjata. Tiba-tiba, Li Noor (Iko Uwais) seorang WNI muncul dan berupaya untuk keluar dari Amerika Serikat secara ilegal. Ia memohon untuk dapat keluar dari AS dengan ganti informasi penting di mana pihak Rusia menyimpan zat berbahaya tersebut. Silva akhirnya setuju untuk menyelundupkan Noor keluar dari AS dengan menggunakan sebuah pesawat yang lokasinya terletak 22 mil dari tempat mereka berada. Sepanjang perjalanan, banyak hal terjadi terutama pihak-pihak yang tidak ingin melihat Noor hidup.Mile 22 Review FilmPremisnya memang cukup sederhana dan sedikit mengingatkan kita pada cerita “Mission Impossible” ke-6, namun untuk kualitas plotnya sangat jauh apabila dibandingkan secara langsung. Pertama-tama, keberadaan Li Noor yang tiba-tiba muncul kurang memiliki latar belakang cerita yang kuat. Memang ia sedikit membicarakan tentang asal-usulnya,, namun itu pun menurut kami kurang bisa menyampaikan alasan yang kuat. Kedua, Peter Berg banyak memasukkan adegan bombastis yang sebenarnya tidak diperlukan atau dalam istilah religiusnya “makruh”. Adegan-adegan makruh ini meliputi dialog-dialog receh yang sepertinya kurang masuk akal dimasukkan dalam film action, penempatan aksi pengeboman dengan background yang tidak cocok, dan masih banyak lagi. Di tengah kebingungan kami memahami plot yang disajikan, “Mile 22” sedikit terselamatkan oleh aksi Iko Uwais yang menyajikan koreografi bertarung indah. Menjadi film pertamanya di Hollywood, semoga Iko memilih proyek dengan plot yang lebih baik ke depannya.

Write A Comment