Interview Bottlesmoker Parakosmos Album
Credit: Widian Lesmana
Interview: Membedah Album Terbaru Bottlesmoker “Parakosmos”

Pada sebuah perhelatan musik di Kota Bandung kala itu, terdengar hingar bingar musik indie electro dengan line up yang cukup mengesankan. Tanpa ragu, kami segera menyambangi acara tersebut dengan tujuan sesi wawancara singkat dengan duo indietronic, Bottlesmoker yang baru saja menelurkan album terbarunya berjudul “Parakosmos” yang bisa diunduh secara gratis di situs berikut. Di album ini, Angkuy dan Nobie bereksperimen kembali dengan musik mereka dan menghasilkan bebunyian yang berbeda dari album terdahulu “Hypnagogic”. Mereka menyempatkan sedikit waktu sebelum naik ke atas panggung untuk berbincang-bincang dengan jurnalis The Display. Yuk, simak pembedahan sistematis dan terstruktur dari album “Parakosmos” serta aktivitas terbaru dari Bottlesmoker pada wawancara berikut.

The Display (TDP) : Halo Bottlesmoker!
Bottlesmoker (B) : Halo selamat malam, sebelumnya kami ucapkan terimakasih sudah mau mengadakan sesi wawancara dengan The Display ini, jangan-jangan kamu juga ya yang ikutin kita terus nih haha…
TDP : Kebetulan saya kontributor dari Bandung, dan kebetulan juga Bottlesmoker main lagi di Bandung setelah beberapa waktu tur ke Sumatera. Ceritakan lebih jauh dong!
B : Iya nih… kemarin emang kita sama temen-temen lain tur dengan tajuk #UnitedWeLoud On The Road di beberapa titik di Pulau Sumatera dan Jawa.
Interview Bottlesmoker Parakosmos Album
Credit: Bottlesmoker Twitter

TDP : Lalu bagaimana kabar tur nya? Lancar ? Gimana sih kesan Bottlesmoker dengan tur kemarin dan kira-kira feedback apa yang kalian dapatkan?

B : Bersyukur lancar, meskipun sebagian ada yang kecapean, diare dan lainnya haha… tapi untungnya kita masih bisa lanjut dan meramaikan acara ini juga. Impressed banget! Karena kita belajar banyak dari perjalan tur kemarin, vibe-nya hangat, dan Sumatera ternyata juga memiliki animo yang tinggi dalam musik indietronic dan indie lainnya, sudah berkembang pesat. Hal yang paling berpengaruhnya yang kita rasakan lebih ke komunikasi secara verbal dengan teman teman disana sih. Kita lagi-lagi dapat ide banyak juga dari hasil komunikasi tersebut, dan kayaknya band atau musisi lain khususnya dari Bandung harus sering keluar juga. Tur ini bisa memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan diri sekaligus perkembangan musiknya sendiri.
TDP : Kami sempat kaget dengan album terbarunya yang berjudul “Parakosmos”, bisa diceritakan bagaimana proses perancangan album ini?
B : Iya beda banget ya? Jadi “Parakosmos” ini sebenarnya album dengan struktur musik yang kita inginkan, beda dengan album sebelumnya yang soundnya cenderung toys music. Kita observasi dan coba rancang ulang lagi harus bagaimana di album baru  ini, sampai akhirnya nah!!! ini nih musik yang ingin kita buat tuh seperti ini. Ada beberapa faktor sih sebenarnya kenapa “Parakosmos” ini bisa lahir, yang pertama, kita terus eksperimen dan komunikasi dengan orang orang etnomusikologi. Kebetulan juga kita lagi ambil studi di ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia) dan kita mencoba meraba-raba masuk ke dalam nuansa budaya dengan berkomunikasi melalui orang-orang ISBI tersebut. Karena memang ISBI cenderung kuat dalam karakter perbudayaannya dari sejak lama tentunya. Kita sempat berekspedisi langsung ke beberapa daerah bagian timur dan barat Indonesia untuk kita rekam langsung (field recording). Bagaimana budaya dan musik di beberapa titik di daerah tersebut dan hasilnya luar biasa Indonesia ini!
Di album ini juga kita sekarang ga cenderung sampling sampling atau jiplak gitu aja, di album ini kita coba nulis beat langsung dari kendang, rhythm dari tarawangsa, dan vokal dibeberapa daerah untuk hasil yang maksimal. Membawakan nuansa budaya ini bukan hal yang mudah dan bisa seenaknya kita mainin, budaya tidak segampang itu . Faktor lainnya kita juga sempat dibantu oleh Palmer Keen, penggiat etnomusikologi dari Amerika Serikat yang cukup lama tinggal di indonesia untuk belajar dan mendokumentasikan sekaligus mengarsipkan budaya indonesia tersebut. Dari situ lah kita mulai bisa melakukan pendekatan observasi etnografi.

TDP : Kenapa album ini dinamakan “Parakosmos”?
B : “Parakosmos” ini sebetulnya hasil dari dua suku kata, Paradoks dan Kosmos, kalau kita namakan Paradokosmos agak ga enak juga bacanya dan akhirnya kita simplify aja menjadi “Parakosmos”. “Parakosmos” ini kurang lebih diartikan sebagai keharmonisan alam semesta, bahwa semua yang ada di alam semesta ini saling berpasangan dan berkesinambungan. Mau itu dipikirkan atau dirasakan secara langsung atau tidak langsung, pasti semua yang ada di alam semesta ini saling berpasangan, contoh kecilnya, gelap dan terang yang berarti siang dan malam, matahari dan bulan, dan seterusnya.
TDP : Sebuah filosofi yang cukup menarik, lalu adakah rencana tur dan rilisan fisik untuk album ini?
B : Insya Allah ada, kita akan tur ke dua titik di daerah Tokyo, Jepang dan beberapa titik di Jawa – Bali. Sembari tur kita sekaligus membuat dan membawa langsung rilisan fisik album ini. Tidak bisa diprediksi tepatnya kapan, mudah-mudahan tahun ini bisa terealisasi semuanya.
Interview Bottlesmoker Parakosmos Album
Credit: Widian Lesmana

TDP : Menurut Bottlesmoker sendiri, bagaimana perkembangan musik independen di Indoenesia?

B : Perkembangan musik independen sendiri tentunya sekarang sudah mulai berkembang pesat ya, sudah bagus sekali, dari munculnya gigs mandiri dan grup baru mandiri yang semakin hari semakin bermunculan. Hal ini membangkitkan semangat teman-teman lain juga untuk tetap bisa bertahan dan berkarya. Intinya komunikasi lebih dieratkan lagi aja sih, karena melalui komunikasi langsung semuanya akan bertambah lebih baik lagi dan perkembangan akan jauh lebih cepat lagi. Tanpa komunikasi dan tanpa saling menyatukan antar komunitas, mungkin independen sendiri tidak akan berkembang lebih jauh lagi.
Reporter: Zakaria Arya/Editor: Novita Widia