Untuk Malang dan Musiknya: Sebuah Surat Cinta
Tepat 10 tahun saya menulis musik. Mengingatnya, saya membuat sebuah surat cinta kepada kota yang memulainya: Malang.
Malang adalah kota pelajar dan saya belajar banyak darinya. Dari kancah musiknya.
Pertama-tama, saya selalu mengambil jarak dari kancah musik Malang. Dari dulu, saya menikmati peran sebagai pendengar biasa. Hal ini konsisten saya lakukan di mana pun.
Tentu keberjarakan tadi memberikan saya plus-minus.
Minusnya, saya tidak masuk dan akrab dengan tongkrongan mana pun. Saya cuma kenal dan berkawan dengan dedengkot-dedengkotnya. Tidak ada sense of community di diri saya kepada apa yang disebut sebagai “Musik Malang”. Ini belum menghitung bahwa mungkin, saya adalah pribadi yang sulit berkawan dengan siapa pun.
Sisi plusnya, saya mungkin bisa melihat berbagai hal dengan lebih objektif. Ini datang sepaket dengan “kebebasan membicarakannya”, baik di ranah personal mau pun publik. Beberapa hari setelah album O Coldiac masuk nominasi AMI Awards 2018, misalnya, saya bisa dengan santai bilang ke Mas Sambadha kalau lirik “Vow” itu biasa-banget—kalau tidak “jelek”.
“C’mon Mas, you can do better than this,” kata saya kepadanya, di sebuah gigs.
Saya pun bisa enteng ngomong bahwa live Dizzyhead itu buruk, utamanya waktu membuka band segemilang Pijar di Houtenhand Garten circa 2017. Lalu tak terhitung seberapa sering saya mengkritik grammar lirik-lirik berbahasa Inggris sekitar. Mas Fifan (Atlesta) sering kena getahnya.
Percayalah, segala kritik tadi tidak ada yang personal. Ini cuma musik, selera, dan penilaian saya. Tak kurang, tak lebih.
Tapi harus saya akui: 5 tahun pertama kepenulisan saya diisi dengan berbagai kenaifan. Akibatnya, ada beragam cekcok dan hal-hal yang tidak perlu. Saya pernah memulai sebuah zine kampus bersama seorang teman. Tapi segala hal yang awalnya manis berbuah tragis. Saya rasa kami sama-sama salah—pun sama-sama benar. Hanya saja, saat itu saya tidak dewasa menerimanya.
Butuh beberapa tahun untuk saya sadar dan punya pandangan lain. Ternyata perpisahan itu memang tak terelakkan—dan itu gakpapa. Selisih visi seringkali harus berujung pada perbedaan aksi. Saya sendiri cukup bersyukur melihat kawan tadi berkiprah dan membantu sekitarnya.
Sampai hari ini.
Lagi-lagi, saya belajar banyak dari semua dinamika tadi. Dan untuk setiap musisi, solois, band, dan siapa pun yang sakit hati karena segala tindakan dan ucapan saya, saya cuma bisa meminta maaf. Sebesar-besarnya.
***
Keberjarakan itu semakin besar dalam 5 tahun kedua. Sebabnya satu: saya pulang ke Kediri. Praktis, saya hanya mendengar kiprah kawan-kawan dari kejauhan. “Wah, ada band A,” atau “Oh, orang itu bikin kolektif ini.” Tentu saja hal-hal itu sampai ke telinga dengan satu-dua slentingan. Gogon. Gosip underground—yang sebenarnya itu-itu saja.
Saya tak pernah tertarik pada gogon. Saya bahkan sudah kurang berminat membahas hal-hal mikro macam ulasan album. Tahun ini, fokus tersebut bergeser ke hal-hal makro: membongkar masalah-masalah struktural yang berdampak langsung pada ruang hidup sekitar.
Perspektif tulisan ini berasal dari kacamata luar; seorang mantan pendatang yang pernah mencium bau asap Houtenhand, ngopi sampai larut di Srawung, dan bersenda gurau di Kafe Pustaka. Maka sebelum lanjut, izinkan saya menyampaikan sebuah disclaimer: maafkan keterbatasan pengetahuan dan titik buta saya.
OK?
Yang pertama dan utama: Musisi Malang sudah berhasil menaikkan daya tawar para pelaku musiknya. Terutama di sisi produksi dan bisnis. Saya melihat sudah banyak musisi Malang yang sadar bahwa musik tak melulu soal musik saja. Ada hak-hak ekonomi di dalamnya, berikut berbagai siasat untuk menggapainya dengan tetap menjadi diri sendiri. Setidaknya, mereka tak perlu lagi main slot event via submission yang sudah pasti tanpa soundcheck, minim konsumsi, dan gak-bayaran itu.
Jika masih ada, semoga itu langkah strategis (dan bukan usaha ngemis-mengemis).
Hal ini tentu tidak muncul dalam semalam. Benih-benih itu dibangun selama bertahun-tahun. Berdekade-dekade, mungkin. Namun kembali ke linimasa kepenulisan pribadi, musik Malang hari ini lebih mudah jalannya karena ada beberapa figur yang membuka lajurnya. Kasarannya: mbabat alas.
Di sisi kiri, kita punya Iksan Skuter. Mas Iksan—yang menyalak di linimasa tapi santun di dunia nyata—adalah contoh terbaik membangun karir ground up. Modal pria ini hanya tiga: gitar akustik, songwriting jujur, dan suara lantang (plus tiga-empat cuitan nylekit). Langkah-langkah strategis yang dia ambil adalah kombinasi unik industri musik yang terukur dengan realita debu jalan yang menuntut improvisasi. Sisanya: tekad kuat dan dosis tinggi kenekatan.
Di sisi kanan, kita punya Coldiac dan Sal Priadi. Mereka muncul dengan citra pop yang polished, seakan setiap jengkal unggahannya diatur sedemikian rupa untuk dipandang massa. Saya njamani feed-feed Coldiac dengan pallete hitam putih dan takarir minimalis. Pun saya sering melihat Sal Priadi main unplugged di acara-acara setempat. Mereka, dengan berbagai siasatnya sendiri, akhirnya berhasil menembus belantika pusat.
Di luar itu, tentu ada subkultur-subkultur yang tidak saya ketahui kiprahnya. Teman-teman underground, misalnya. Selama ini saya tidak mempunyai pengalaman cukup untuk menulis tentangnya. Tetapi saya ingin menyampaikan rispek sedalam-dalamnya atas konsistensi kawan-kawan. Tabik!
Sepak terjang pelaku-pelaku tadi diperkuat oleh keberadaan ruang-ruang kecil yang nurturing. Selain Warung Srawung, ada Legipait, Kalampoki, God Bless Cafe, Backline, dan utamanya, Houtenhand. Gigs-gigs di Houtenhand adalah kawah candradimuka para musisi. Meski muka wong-wongnya serem (jujur, saya sempat takut sama mas Unk apalagi mas Alo), tapi mereka punya semangat IDGAF yang kental. Kancah itu merayakan dirinya sendiri, sembari tetap terbuka kepada siapa pun yang hadir.
Ruang-ruang tadi tumbuh berbarengan dengan ekosistem penopangnya: studio, label, toko rekaman, media, hingga kolektif gigs. Terlalu banyak jika disebutkan satu per satu. Namun khusus tulisan ini, saya ingin memberi shoutout khusus kepada Heartfelt Collective yang konsisten nguri-uri kebudayaan sampai titik ini. Salut untuk mas Risang dan kawan-kawan.
Dampak lain dari itu semua adalah: minimnya ketergantungan kepada musisi “senior”—siapa pun itu. Feodalisme adalah bahaya laten kancah, terutama di Jawa Timur dengan segala ke-unggah-ungguhan-nya itu. Musisi-musisi tadi hampir semuanya berangkat dari jalur mandiri dan membangun komunitasnya masing-masing. Dalam istilah saya, “membangun menaranya sendiri”. Mas Iksan dengan Warung Srawung-nya, Coldiac-Sal dengan studio GZZ & tongkrongannya. Belum menghitung “menara-menara” lainnya. Beda sirkel tapi saling kenal.
Intinya, hal-hal di atas membuat jalan musisi-musisi setelahnya (atau yang seangkatan tapi baru muncul lagi) jadi lebih mudah. Mereka punya contoh dan tidak perlu memulai segalanya dari nol. Tak perlu kesalahan yang sama lagi.
Kalau mau belajar, tentu saja.
***
Hal selanjutnya adalah bagaimana kita bisa lebih luas berbagi rezeki? Para pemain dan kru mungkin sudah bisa makan, tetapi bagaimana dengan supporting system lain? Mereka yang bekerja di balik layar, di bawah panggung, bahkan seringkali 24/7, tidak by project?
Seorang manajer mungkin tak ikut usung-usung Helix atau membetulkan knob Orange gitaris favoritmu. Tapi tanpa mereka, band panutanmu bisa saja kocar-kacir, tak terarah, bahkan bubar.
Seorang publisis mungkin cuma dipandang sebagai penggurat dan penyebar press release. Tapi bagaimana jika perspektif-perspektif PR mereka berkontribusi terhadap strategi rilismu?
Sebuah kolektif gigs jelas bukan Damkar yang bekerja atas nama CSR. Orang-orang di dalamnya juga butuh makan atau minimal duit rokok. Ini juga berlaku terhadap media, kreator konten, bahkan ruang-ruang kecil yang datang dan pergi.
Sampai hal-hal soft-service macam itu dihargai layak, maka saya belum bisa mengatakan sebuah kancah ideal secara ekonomi. Barangkali hal inilah yang harus terus menerus kita pelajari, utamanya dari industri yang sudah mapan. Entah di pusat belantika atau sekalian luar Indonesia.
Apakah perlu 100% diadopsi? Tentu tidak. Sesuaikan saja, toh titik mulanya beda-beda.
Saya juga mengusulkan adanya kontrak tertulis, alih-alih gentlemen’s agreement. Di luar sana, terlalu banyak hubungan yang rusak karena ketiadaan Terms and Conditions yang jelas. Atas nama perkawanan, kita terlalu sering sungkan ngomongin duit dan gono-gininya. Hal-hal tersebut, dalam hemat saya, harusnya selesai di awal. Bukan ketika ada masalah saja.
Urusan ini bertambah krusial ketika melibatkan instansi pemerintah. Harus diakui, peran mereka dalam ekosistem ini amat kecil (kalau tak mau dibilang nihil). Satu-satunya alasan logis dari kehadiran mereka hanyalah pendanaan. Itu pun harus dihitung matang-matang: dari belitan birokrasi hingga konsekuensi politiknya.
Apalagi kalau ada kawan yang sudah masuk ke lingkaran, lalu membaur ke tongkrongan. Business is business. Kita harus jeli membaca: dia sedang bicara sebagai kawan, atau perpanjangan kekuasaan?
Di situlah pemahaman atas legalitas menjadi vital.
Berbagi-kue adalah titik lanjut dari kancah. Kerja-kerja tak terlihat tadi juga patut—harus—hidup dari musik. Jangan sampai kita terlalu lama berkecimpung di dimensi simbolik: pengakuan, prestise, dan sorot lampu hingga lupa ada perut yang harus makan besok pagi. Gimana kalau kita naikkan perdebatannya ke kedaulatan ekonomi? Tak hanya para pelaku langsung, tapi juga mereka yang ada di luarannya.
Bagaimana caranya? Tentu kawan-kawan yang lebih bisa menjawab dan melakukannya.
***
Masalah ketiga adalah manajemen diskursus. Termasuk dalam merespons segala gejala dan konflik yang ada di dalamnya. Bagaimana stance kita terhadap perilaku indisipliner hingga tindak kriminal seperti penggelapan dana dan Kekerasan Seksual (KS)? Saya rasa, kejadian-kejadian tersebut penting untuk terus dicari jalan keluarnya, alih-alih cuma jadi bahan gunjingan.
Sebab, setitik nila merusak susu sebelanga. Jangan sampai hal itu terjadi dan meluluhlantakkan rantai-rantai yang kadung terjalin di dalamnya.
Hal ini berlaku baik di ranah privat, sirkel, maupun publik. Rasan-rasan is fun sampai kamu jadi subjek yang dirasani atau lebih buruk, memperoleh dampak langsung darinya. Mau sampai kapan begitu terus? Mau sampai kapan nge-twit atau bikin story no-mention atas masalah yang harusnya bisa diselesaikan dengan ketuk WA, Google Meet, dan/atau ketemu langsung?
Atau jangan-jangan, kita memang terlalu pengecut untuk menyelesaikan sebuah masalah?
Tanya.
PR terbesar kita yang lainnya adalah cara menanggapi respons terbuka. Kritik, saran, bahkan cemoohan idealnya ditanggapi dengan kepala dingin. Baper, tersinggung, atau bahkan marah jelas wajar. Semua perasaan valid, kok. Tapi bagaimana merespons hal-hal itulah yang barangkali lebih penting. Saya rasa kedewasaan itulah yang masih perlu dilatih terus menerus.
Bahkan solois sekelas Sal Priadi saja tak cukup dewasa dalam menanggapi diskursus publik. Kita tahu geger gedhen awal tahun ini tentangnya, bukan? Seperti saya, ternyata dia kurang bijak merespons berbagai hal di sekitarnya. Semoga saya, dia, dan kita semua terus belajar soal ini.
Merangkum: tidak ada salahnya menjadi salah. Setidaknya, kita punya ruang untuk mengevaluasi, berbenah diri, dan menjadi lebih baik. Itu poinnya.
***
Lagi-lagi saya tegaskan: hal-hal tadi berangkat dari sebuah keberjarakan. Informasi-informasi yang saya dapatkan juga berasal dari kawan-kawan lama yang masih berkecimpung di dalamnya. Mohon maaf bila ada salah tanggap dan tangkap soal ini. (Percayalah, saya berusaha seadil mungkin dalam menulis ini semua).
Kancah Malang menyimpan banyak potensi. Di sisi lain, berbagai salah langkah bisa merusak semuanya. Dalam sebuah WA tahun 2017, mas Samack bilang kepada saya, “Di Malang, kita harus terbiasa dengan merelakan. Termasuk merelakan musisi-musisi bagus untuk berhenti dari jalur yang dicintainya ini.” Saat itu saya sepakat sembari diam-diam berharap hal-hal tersebut akan berkurang seiring waktu.
Harapan itu perlahan menjadi terang. Mengutip lirik Tani Maju, “Semua prasangka yang baik datang dari hati yang baik.” Apa yang terbangun di kancah musik Malang saat ini jelas berasal dari hati-hati yang baik. Pilihan langkah boleh berbeda, tetapi niat sama mulianya. Bagi saya sebagai pengamat jauhnya, melihat kawan-kawan bisa hidup dari musik, hal yang mereka cinta, adalah kepuasan tersendiri. Tiada tara, bahkan.
Semoga ia terus dan kian benderang.
Menutup ini semua, saya menyayangi Malang dengan berbagai alasan—dan ketiadaannya. Tak semua cerita berakhir manis, malahan banyak juga yang pahit. Tapi satu: saya selalu berdoa hal-hal buruk selalu dijauhkan dari “rumah kedua” saya tersebut. Biarlah Malang tidak berakhir “malang” tetapi malah menggenapi nama asli kota tersebut: Malangkuçeçwara.
Tuhan menghancurkan yang batil. Senantiasa. – KMPL –
Penulis: Randy Levin Virgiawan/Editor Novita Widia/Dokumentasi: The Display & KMPL
========================================================================================
Tentang Penulis
Randy Levin Virgiawan alias KMPL adalah pendengar musik asal Kediri. Naskahnya tentang Tani Maju dimuat pada buku Ritmekota: Kumpulan Tulisan Musik dari Kota Malang yang diterbitkan Pelangi Sastra pada tahun 2019.
Selebihnya, ada Google kan?
Jejaring sosial: @randy_kempel