[SPOILER] Review: “Para Perasuk”, Film Ambisius Wregas Bhanuteja Jatuh di Bawah Ekspektasi
Film “Para Perasuk” menjadi salah satu judul yang kami nantikan di layar lebar tanah air sejak beritanya mendapatkan sambutan meriah di Sundance mencuat di awal tahun 2026. Disutradarai oleh Wregas Bhanuteja dan ditulis bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra, film ini menceritakan tentang sesosok pemuda bernama Bayu yang berambisi menjadi perasuk untuk menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan di sebuah desa yang berada 2 jam perjalanan dari Jakarta yakni Latas. Film ini mengambil latar belakang sebuah desa fiktif dengan kebudayaan fiktif yaitu ‘Pesta Sambetan’, yang memiliki kemiripan dengan beberapa budaya asal Jawa seperti ‘jathilan’ atau ‘caplokan’ yang memungkinkan mereka yang menari kerasukan ‘roh’.
Jatuh miskin di Jakarta dan harus putus sekolah, sambetan menjadi jalan bagi tokoh utama Bayu untuk membuktikan diri sembari mencari rejeki. Dalam perjalanannya menjadi perasuk hebat, Bayu harus menghadapi berbagai halangan seperti masalah percintaan, keluarga, pertemanan, hingga masalah lingkungan.
“Para Perasuk” memadukan cast yang diisi aktor dan aktris top Indonesia dengan Angga Yunanda mengambil peran utama sebagai Bayu. Kemampuan aktingnya di film ini patut diapresiasi karena bisa menampilkan kepribadian pemuda yang tengil, keras kepala, namun menyimpan banyak luka. Ia hanya memiliki seorang Bapak yang diperankan Indra Birowo, yang tidak bekerja dan hanya menyambung hidup dari menjual barang-barang seadanya dan bergantung pada kiriman bulanan dari kakaknya di Jakarta. Mereka menempati rumah warisan dari kakek nenek Bayu yang telah lama meninggal di Latas.
Diceritakan para perasuk merupakan pemusik dengan alat musik pilihan masing-masing, memiliki kemampuan untuk membuat para pelamun (mereka yang menari) masuk ke alam roh dengan roh yang perasuk berhasil taklukan. Secara konsep ini mengingatkan kami dengan anime seperti Pokémon, namun di “Para Perasuk” dikotomi antara roh lemah dan roh kuat tidak secara gamblang dijabarkan. Lewat dialog, adegan singkat dan gambar-gambar hewan, penonton hanya sekilas diperkenalkan dengan konsep dunia roh yang konon katanya berjumlah 20.
Hal ini beberapa kali menimbulkan kebingungan di kalangan penonton, apakah roh kuat menjamin sambetan yang berhasil, ataukah meskipun roh lemah, perasuk tetap bisa dikategorikan kuat apabila berhasil membuat pelamun dalam keadaan kerasukan sekian lama. Di sini kami mulai meragukan premis yang dibuat untuk film ini. Yang pasti, ritual pesta sambetan ini sudah menjadi tradisi turun temurun dan merupakan mata pencaharian bagi banyak orang.
Dengan premis dasar yang kurang kuat, film berlanjut pada pertemuan Bayu dengan Laksmi yang diperankan Maudy Ayunda, seorang eks karyawan swasta yang memutuskan pindah ke Latas untuk menenangkan diri dari traumanya. Laksmi memilih Latas karena terpikat dengan budaya sambetan yang bisa membuatnya sejenak lupa atas traumanya dan mampu mencapai kedamaian di dunia roh. Kali ini, premis cerita kembali dibenturkan kepada kegoyahan logika.
Bagi seseorang karyawan swasta di kota besar terutama yang bergerak di bidang teknologi, pemilihan budaya yang cenderung ‘kuno’ dan minim peminat dari orang kota sebagai suatu ‘eskapisme’ menurut kami kurang masuk akal. Beberapa dialog antara Laksmi dan Bayu juga semakin menegaskan bahwa penulis skrip seakan kurang memahami perbedaan kelas sosial antara dua tokoh dengan menggunakan istilah-istilah modern dan sulit dipahami untuk tokoh dengan latar belakang seperti Bayu.
Plot cerita kemudian berpindah kepada problematika yang lebih besar yakni adanya PT. Wanaria, perusahaan yang bergerak di bidang real estate, yang ingin menguasai sebagian besar tanah di Latas dan mengancam keberlangsungan ekologi di desa ini. Dikisahkan PT. Wanaria membeli lahan para penduduk satu demi satu demi memperluas perumahan mewah yang mereka bangun. Salah satu lahan yang mereka incar adalah mata air sakral di desa Latas, di mana para perasuk bertapa untuk mendapatkan roh.
Perguruan sambetan yang dipimpin Guru Asri (Anggun C. Sasmi) gigih ingin mempertahankan mata air ini karena telah menjadi pusat bertapa para perasuk untuk mendapatkan roh. Roh-roh yang ada di mata air ini patut dijaga untuk keberlangsungan desa dan wilayah sekitar. Mata air ini ditawar seharga ratusan juta oleh PT. Wanaria yang dijawab dengan tawaran yang lebih tinggi dari Guru Asri dengan mengadakan pesta sambetan akbar.
Kelemahan dari tawaran Guru Asri dari sisi penonton adalah tidak adanya penjelasan tentang berapa pendapatan per sambetan yang bisa diraup oleh sanggar, sehingga menurut kami angka-angka ini terkesan normatif belaka. Ambisi Bayu untuk menjadi perasuk ahli juga salah satunya dimotivasi oleh uang, yang sekali lagi tidak dimunculkan pendapatannya di film “Para Perasuk” ini. Terlepas dari itu, kesenian sambetan yang ditampilkan di film ini menampilkan musik yang rancak, magis, serta tarian yang tidak terpaku pada pakem tertentu. Suatu saat tariannya bisa mirip jaipong, tapi di waktu lain lebih seperti tarian penyembah kultusan, dan di waktu lain seperti zumba sehingga membuat penonton tidak bosan.
Di sepanjang film, tokoh utama dalam jalannya menjadi perasuk yang ahli mengalami distraksi di tiap ritual sambetan, seperti tidak bisa mengendalikan emosi dan tidak bisa menjaga fokus. Pola ini terjadi di beberapa kali hingga membuat kami bertanya, “tokoh ini memang menjadi lebih ahli atau tidak?”. Kegeraman kami di sisi character development tokoh utama yang terkesan lambat, diperparah dengan beberapa karakter sampingan seperti Ananto (Bryan Domani) dan Pawit (Chicco Kurniawan) sebagai sesama perasuk yang justru menunjukkan perkembangan mereka.
Kembali ke tokoh Laksmi, ia akhirnya membuka diri kepada Bayu dan menceritakan asal muasal traumanya. Tidak untuk mengkerdilkan trauma seseorang, namun untuk film ini menurut kami trigger dari traumanya yakni ‘hujan’ terasa sedikit memaksakan. Mengingat Indonesia merupakan negara tropis yang punya dua musim yakni kemarau dan penghujan, maka tokoh Laksmi akan tidak berfungsi dalam kurun waktu 6 bulan karena traumanya. It just doesn’t make any sense.
Konflik dari film ini semakin mengerucut dengan adanya tawaran PT. Wanaria terhadap lahan warisan Bayu, serta keinginan sang ayah untuk berbisnis lagi dengan kekasihnya. Di sisi lain, cengkraman PT. Wanaria terhadap desa Latas semakin terasa menyesakkan dengan adanya intimidasi terhadap para warga desa yang masih sangat relevan dengan kondisi negeri ini sekarang. Hal ini semakin mendorong Bayu untuk melakukan apapun untuk menjadi perasuk dan ia menghalalkan segala cara untuk mendapat roh teratas dan ia memusatkan incarannya pada roh lintah. Segala cara ia lakukan untuk mendapatkan roh ini termasuk berpuasa, bertapa, tidak berbicara, hingga bertingkah seperti hewan penghisap darah tersebut.
Di tengah ritualnya, Bayu harus menghadapi ayahnya yang nekat menjual lahan warisan, Laksmi yang menghadapi episode traumatis, serta warga Latas yang berontak melawan PT. Wanaria. Film diakhiri dengan ending yang menurut kami jatuh di bawah ekspektasi. Meskipun berakhir bahagia bagi Bayu dan warga Latas, kedatangan korps negara untuk melawan sebuah korporasi besar dan membela rakyat adalah suatu keniscayaan di kondisi sekarang ini. Apabila benar-benar terjadi di Indonesia, bukan tidak mungkin justru PT. Wanaria lah yang tersenyum di akhir.
Secara singkat, film “Para Perasuk” menyajikan ambisi besar Wregas Bhanuteja namun tidak dibangun dengan pondisi plot yang kohesif, serta latar belakang masing-masing tokoh yang kuat. Beberapa karakter sampingan menurut kami bahkan bisa dengan mudahnya dihilangkan dari plot cerita dan tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap keseluruhan film. Penggunaan efek-efek dramatis seperti slow motion close-up shot, asap dari dry ice, kostum dan make-up nyentrik, hingga permainan lighting di dunia roh yang kerap kali ditunjukkan memang memukau saat pertama atau kedua kali ditampilkan. Akan tetapi, frekuensi shot jenis tersebut di sepanjang film yang terlalu banyak justru mendistraksi akar masalah, pun tidak menambah estetika tertentu dalam film.
“Para Perasuk” merupakan film yang bisa kamu tangkap dengan mudah namun kurang meninggalkan kesan yang mendalam. Isu personal, lingkungan dan sosial yang disuntikkan dalam film terkadang bisa melengkapi, namun di film ini terasa seperti air dan api. Mungkin tema-tema yang terasa berat ini masih sulit dicerna oleh penikmat film Indonesia, sehingga film ini ‘hanya’ mampu meraup sekitar 152.898 penonton di 2 minggu lebih (9/5) penayangannya seperti dilansir dari situs Cinepoint.
Meskipun begitu, patut kami beri apresiasi setinggi-tingginya untuk Wregas dan tim karena mau mengangkat isu yang jarang ditemukan di film populer Indonesia. Kami berharap akan lebih banyak sineas yang tertarik untuk mengeksplorasi lebih jauh tema-tema tersebut dengan premis dan jalan cerita yang matang serta menarik ke depannya, karena tema tersebut dekat dan nyata ada di sekitar kita. Masih banyak ruang untuk mengeksplorasi plot yang lebih kohesif dan menciptakan IP yang bisa membuat para penonton jatuh hati.
Penulis: Novita Widia/Dokumentasi: Movie Database