Review: “Sonic The Hedgehog” Puaskan Fantasi Masa Kecil
“Sonic The Hedgehog” bukanlah sosok asing di mata mereka yang tumbuh di tahun 90-an. Populer menjadi tokoh sebuah konsol game asal Jepang, tokoh ini akhirnya dibuat menjadi sebuah sajian live action dengan judul sama. Sutradara Jeff Fowler menerjemahkan naskah dari Pat Casey dan Josh Miller menjadi tayangan berdurasi 99 menit. Mengingat kontroversi sejak trailer pertama muncul tahun lalu, di mana para fans mengajukan petisi untuk mengubah desain serta efek visual dari tokoh Sonic menjadi lebih ‘fiksi’, ekspektasi kami ketika menontonnya tidak terlalu tinggi. “Sonic The Hedgehog” mengambil jalan cerita yang mengingatkan kami pada Transformers yang juga animasi asal Jepang. Sonic merupakan alien yang tinggal di sebuah planet asing. Memiliki kemampuan super dalam berlari, ia diburu oleh orang-orang jahat bernama Dr. Robotnik di planetnya. Ia terpaksa harus melarikan diri ke beberapa planet lain sebelum akhirnya terdampar di bumi. Ia bersembunyi di sebuah daerah bernama Green Hills dengan tenang, sampai ia kebosanan dan melakukan aksi yang menimbulkan kecurigaan warga sekitar. Sonic mampu bertransportasi dengan cincin, hingga suatu saat cincin tersebut hilang.