“Backrooms” Timbulkan Kecemasan dalam Kemasan Horor

Review: “Backrooms” Timbulkan Kecemasan dalam Kemasan Horor Versi Baru

“Backrooms” bukan sebuah terminologi asing bagi para gen-Z yang tumbuh di era internet. Berawal dari postingan random seorang user di forum internet yang mengunggah gambar sebuah ruangan berwarna kuning dengan cahaya redup, “Backrooms” merupakan fenomena internet yang sensasional sejak awal kemunculannya. Meskipun hanya sebuah gambar statis, gambar ruangan kosong tersebut mampu menimbulkan rasa asing yang tidak nyaman, yang kemudian diidentifikasi sebagai ‘liminal’.

Tidak disangka, gambar ini menginspirasi seorang Kane Parsons untuk membuat film pendek di Youtube yang mampu meraup jutaan penonton. Studio dan distributor A24 mengumumkan akan mengadaptasi fenomena internet ini menjadi sebuah film panjang yang dirilis pada musim panas 2026. Mereka mempercayakan Kane Parsons untuk menyutradarai film layar lebar pertamanya.

Kami menyaksikan film ini sembari bertanya-tanya, narasi apa yang bisa dikembangkan dari sebuah sensasi daring? Dibintangi oleh Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve, “Backrooms” mengambil setting tahun 90-an. “Backrooms” menceritakan tentang Clark (Chiwetel Ejiofor) yang bekerja sebagai penjual furnitur yang harus mengubur mimpinya sebagai arsitek. Ia menghabiskan banyak waktu di tokonya demi mendapat uang, hingga mengesampingkan kehidupan pribadinya. Clark harus menelan fakta bahwa ia tidak lagi bisa menjalin hubungan personal karena lebih mementingkan pekerjaan. Ia merasa ada yang salah dengan dirinya hingga memutuskan untuk menemui psikolog yakni Dr. Mary Kline (Renate Reinsve).

Pertemuan keduanya membuka tabir traumatis yang selama ini Clark pendam dalam-dalam. Di saat yang sama, ia juga mulai merasakan kejanggalan di toko furniturnya. Suatu malam saat ia menginap di toko, ia tidak sengaja masuk ke sebuah ruangan yang sebelumnya tidak pernah ada. Sejak saat itu, dunia Clark sebagaimana ia kenal dulu berubah total. Dr. Mary Kline dihadapkan pada tantangan untuk menyelamatkan pasiennya sekaligus menghadapi trauma masa kecilnya di “Backrooms”.

Kane Parsons menjelma menjadi sineas gen Z yang cukup menjanjikan dengan debutnya di film ini. Ia tidak melupakan film pendek yang ia rilis di Youtube dengan ‘menyalin’ sinematografinya terdahulu di dalam film “Backrooms”. Shoot dengan POV orang pertama lewat kamera jadul membangun ketegangan dan kecemasan tersendiri. Genre horor yang tersaji di “Backrooms” tidak penuh dengan jumpscare, melainkan anxiety build-up (penumpukan kecemasan) lewat adegan menelusuri ruangan aneh satu per satu dan teror lewat suara-suara asing yang tidak familiar.

Scoring yang memunculkan sensasi aneh, serta efek suara pendar lampu yang berdengung, makin membuat para penonton tegang dan penuh dengan kecemasan. Kane Parsons berhasil mentransportasi penonton ke ruangan-ruangan tersebut lewat pembangunan atmosfir yang intens.

Bagi penggemar horor yang menyukai film beralur cepat dan penuh jumpscare, maka “Backroom” bukan tipemu. Namun mereka yang jeli melihat dan mencerna adegan demi adegan lewat simbol, maka “Backrooms” adalah film dan tempat yang tepat untuk berbagai interpretasi. Film horor jenis ini seperti membuka celah bagi sub-genre baru yang segar dan inovatif. Pengembangan “Backrooms” sebagai kekayaan intelektual juga masih terbuka lebar dan sangat bisa dikembangkan lewat film-film berikutnya.

Tonton “Backrooms” di layar lebar terdekatmu untuk merasakan keanehan dan ketidaknyamanannya!

Editor: Novita Widia/Dokumentasi: Movie Database

Related Post